Senin, Januari 24, 2011

Anak Seorang Ibu Petani Penyayang (1)

Seorang anak kecil dengan semangat mengejar bola, dengan dibayangi lawan mainnya dia berusaha mengocek bola tenis kecil itu agar bisa mencetak gol yang tinggal beberapa meter lagi darinya. Dengan satu gocekan dia berhasil melewati lawan terakhir dan kemudian dia mengecoh kiper. Akhirnya........................... "GOOOOOOOOOL".



Temannya berteriak kegirangan karena akhirnya mereka menang. Lonceng dari arah sekolah berbunyi, tanda waktu istirahat habis. Dia dan teman-temannya kembali masuk kelas. Dia ambil bola tenis itu, kemudian dimasukkan kedalam sakunya. Sambil membuka kancing baju bagian atas, dia tiup dadanya yang kepanasan. Seluruh baju dalamnya pun basah kuyup. Dia menuju sumur, ambil air dan dia guyurkan kemuka, segeeeeeeeeeeer...Di kelas diapun diprotes gurunya karena bau keringat yang hampir memenuhi seluruh ruangan kelas. Dengan malu-malu dia minta maaf dan akhirnya pelajaranpun dimulai.



Lonceng tanda pulang sekolah pun berbunyi, dia ambil tas, segera berlari keluar kelas. Ketika melewati lapangan bola yang luas itu, dia keluarkan bola tenis itu, dia gocek sendiri menuju ujung lapangan karena diujung sana sudah banyak batu kerikil yang menunngu untuk menemaninya pulang. Sampai dirumah, diapun meletakkan tasnya, ganti baju seadanya. Diapun berjalan ke arah ujung desa, menuju persawahan yang hijau. Tidak lupa dia bawa bola kecil itu didalam sakunya.




Di persawahan itu, diapun menemui ibunya. Alangkah gembiranya Si Ibu melihat anaknya datang. Ibunya menyuruh anaknya duduk dan main di gubuk reot yang dekat dengan sungai. Si ibupun melarang untuk mendekat kesungai. Dengan kecewa dia duduk sebentar sambil memainkan bolanya, dan mencari makanan ringan di tas yang biasa dibawa ibunya. Tanpa sepengetahuan ibunya, diapun berlari menuju sungai. Buka baju dan celana, diapun menceburkan diri kesungai, walaupun sendiri tapi dia menikmatinya. Tak lama kemudian, datanglah teman-temannya. Semakin gembira saja si anak itu. Dia kembali berenang sesukanya dan sambil main petak umpet tak terasa dia sudah dangat kedinginan. Diapun keluar dari sungai, mengeringkan badan sesaat dan kembali memasang baju dan celananya. Tak lupa dia cek kembali bola kecil yang ada didalam sakunya.



Hari menjelang sore, Si Ibupun selesai dan dengan lumpur yang masih menempel disekujur tubuhnya dia mendekat ke gubukk itu. Dia kaget melihat Si Anak mempunyai bibir yang agak biru tanda habis mandi dan kedinginan. Si Ibupun marah dan ngomel-ngomel ke anak itu. Si Anakpun hanya senyum tertunduk, mungkin sedikit menyesal. Si Ibupun mandi dan mengajaknya kembali ke sungai, agar mandinya pake sabun dan bersih lagi. Dengan rasa malas, diapun mengikuti ibunya. Selesai dimandiin, diapun senang karena kasih sayang ibunya sangat terasa ketika itu.



Dia dan ibunya pun pulang, tak lupa minta dijajanin ibunya. Sampai dirumah, ibunya menyuruh dia untuk pakai baju koko pemberian kakek kemudian berangkat ngaji. Kakak-kakaknya pun sudah siap. Dengan membawa obor yang belum dinyalakan, mereka pun berangkat ngaji sampai jam 9 malam. Setelah jam 9, diapun kembali pulang ditemani obor dari bambu yang asapnya bikin sesak nafas dan batuk. Sampai dirumah, merekapun masing-masing belajar. Tak lupa Si Anak menyalakn lampu kecil dari kaleng bekas berisi minyak. Belajarpun dimulai, dia dengan serius berusaha membaca dan mengerjakan tugas dari guru-gurunya dengan baik. Dia berharap nilainya bagus dan menjadi juara di kelas. Seminggu lagi ujian, dan dia juga sudah mempersiapkan diri untuk ujian itu.



Jam 5 pagi, diapun dibangunin bapaknya, disuruh berwuduk dan dengan sepeda tua milik si bapak, diapun berangkat menuju masjid. Pulang dari masjid, dia baca alquran dan periksa kembali pekerjaan rumahnya agar tidak ada kesalahan nantinya. Pagi menjelang, diapun mandi. Si Ibu sudah memanaskan air, dan sudah siap dikamar mandi untuk memandikan dia. Dia protes karena mau mandi sendiri dengan air langsung dari sumur. Si Ibupun memaksa, tapi dia tidak mau dan tetap pengen mandi sendiri. Si Ibupun dengan pengertiannya membiarkan anaknya mandi sendiri. Tak Lupa sedikit baju kotornya dia cuci, walaupun nanti akan dicuci ulang sama Ibunya karena masih kotor.



Masa ujian pun datang, dia dengan penuh semangat belajar dan akhirnya pada waktu pengumuman juara, dia berhasil menjadi yang terbaik di kelasnya. Semua orang disekelilingnya senang, dan sambil menangis, ibu dan bapaknya memeluk, begitu juga kakak-kakaknya. Banyak hadiah diterima, baik sekedar pelukan maupun sejumlah uang sudah terselip di buku laporan pendidikan dia. Senangnya punya banyak uang, uang itupun dia serahkan buat ibu beli sayur dan lauk pauk. Si Ibu menangis dan bilang ini untuk sekolahnya saja. Si Anak tidak menyerahkan uang semuanya, karena dia berencana beli sayur dan lauk kesukaannya untuk dimasakin Si Ibu.



Hari hari berlalu, kisah seorang anak petani berlanjut dan dengan segala permasalahan yang mampu diatasi. Keluarga petani itupun berusaha setiap hari agar kehidupan mereka lebih baik. Orang tua bekerja dari pagi sampai malam, sianak belajar sungguh-sungguh...

Dan sampai pada saat Si Anak terpukul, tanpa semangat dan seolah-olah tidak hidup lagi di bumi ini. Sangat sedih dia ditinggalkan Si Ibu untuk selamanya, tanpa henti si anak menangis dan pelukan hiburan muncul dari mana-mana. Si Anak kecil itupun akan menjalani kehidupan kedepan tanpa dampingan ibunya, sungguh berat...

___________________________________________________________________

Bersambung ...............

2 komentar:

Comment Please!